// Hanya bagian “satu dan lain hal”//
“Ga papa, ini karena…satu dan lain hal”
“satu dan lain hal” dan karena itu saya :
- Sudah jarang menggunakan tangan untuk sketching lagi. Padahal keinginan saya selalu menggebu saat melihat handrawing. Kenapa???? karena “satu dan lain hal”
- Sudah jarang lagi mengingat Tuhan. Padahal setiap saya berdiam diri merenung tanpa melakukan apa-apa, saya selalu teringat Tuhan dan rindu sekali menyapa dan merasakan rasa nyaman berdialog dengannya. Kenapa???? karena “satu dan lain hal”
- Kerap kali marah, apatis, tak menghargai, nyirnyir, dan lebih banyak diam kepada semua hal dan semua orang. Padahal saya rindu sekali membuat orang tersenyum dengan bantuan yang saya berikan. Penting tak penting. Kenapa???? karena “satu dan lain hal”
- Tak pernah lagi antusias terhadap sesuatu yang menarik lalu menyesal saat kembali ke jaman lama melihat apa saja dulu yang pernah saya lakukan dengan antusiasme selalu berbuah hasil mengagumkan. Kenapa???? karena “satu dan lain hal”
- Terlupa untuk bersyukur, atas apa yang saya punya….apa yang dulu saya inginkan dan berhasil diraih sekarang. Saya terlupa untuk kembali ke masa dimana hal kecil menjadi cita-cita dan saat saya ada di sini sekarang…saya lupa bersyukur. Kenapa???? karena “satu dan lain hal”
Numeral ini takkan habis untuk menghitung “satu dan lain hal” yang saya gadang-gadangkan sebagai penyebab kenapa ada rasa selalu kekurangan di tengah situasi berlebihan seperti sekarang ini.
jadi apa “satu dan lain hal”???? tak ada…
Saya hanya terlalu lama mendongak melupakan manisnya sebuah proses. Tak berarti hidup saya lebih menyedihkan dari yang dulu….hanya saja ini proses dimana matisuri tidak merasakan apa-apa dulu… lalu (semoga) bangkit kembali menjadi pribadi yang “mau mulai lagi”. Pribadi yang lebih baik adalah side effect saja. Yang penting mau mulai dulu :)
Lalu sekarang??? apa yang harus saya lakukan???
Dimulai dengan satu lalu diikuti dengan lain hal. Ada banyak cara untuk memulai. Tinggal pilih yang mana dulu. Bukan begitu ??? :)






